Ucapan Hari Idul Adha Oleh Arvindo dan Keluarga, Untuk Semua.

Jakarta, petenews.co.id

Kami—Arvindo & Keluarga mengucapkan selamat Idul Adha bagi kita semua, semoga hari yang penuh berkah ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan keberkahan dalam hidup kita, 6/6/25 – 1446H.

Di tengah semarak perayaan dan takbir yang menggema, kami ingin membagikan pengalaman menarik—sebuah surat yang kami temukan tersembunyi di dalam kaleng tua di kandang kambing. Begini isi suratnya:

—————————————
Dari Kami yang Berkaki Empat

Kami ini hewan ternak, bukan ahli tafsir. Tapi sejak dari kandang, kami bisa merasakan: setiap kali Zulhijjah datang, ada yang berubah di udara. Suara takbir mulai menggema dari menara ke menara, menyusup ke sela pagar dan membuat bulu kami berdiri. Ada sesuatu yang sakral dalam setiap “Allahu Akbar”—bukan rasa takut, lebih kepada tanya yang tak terjawab: apakah ini panggilan ke surga, atau undangan ke panci tetangga?

Kami mendengar manusia berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim, tentang ketaatan yang tak terpatahkan, tentang pengorbanan yang suci. Kami mengangguk-angguk dari balik kandang, seolah paham. Tapi di antara kami—sapi, kambing, dan kadang domba—sering muncul obrolan yang tak bisa dihindari: kalau ujian Nabi adalah menyembelih anaknya, kenapa justru kami yang rutin jadi ‘relawan tetap’? Apakah ini semacam outsourcing spiritual yang diwariskan turun-temurun? Atau ini memang bagian dari rencana langit yang tak bisa diurai oleh otak berkaki empat?

Kadang kami iri pada manusia. Mereka bisa berdzikir sambil membakar sate. Bisa bertakbir sambil menyesap teh hangat. Sementara kami? Dzikir kami dilantunkan sambil menunggu giliran. Sambil mencium aroma tajam dari besi yang diasah. Padahal, kalau soal konsistensi berdzikir, boleh diadu—setiap pagi dan sore, tanpa putus, kami melantunkan “mmbeekk” dan “mmuuuuh”. Tapi mungkin memang belum cukup husyuk. Terlalu banyak kunyah rumput, terlalu sedikit tafakur. Tapi, Allah Mahatahu, dan tentu Maha Pengampun pula.

Dan tibalah hari ini. Pisau diasah lebih khidmat dari biasanya. Langit terlihat lebih cerah. Kami saling berpandangan, saling menguatkan dalam diam. Seekor sapi menatap ke atas dan bertanya lirih, “Apakah ini surga, atau cuma tempat penyembelihan yang atapnya belum dipasang?” Seekor kambing—yang dikenal paling taat di antara kami—berbisik pelan, “Tenang, saudara-saudaraku. Jika ini jalan kita menuju syahid, semoga daging kita tidak jadi rendang yang keras.” Kami tertawa pelan. Lucu, getir, sekaligus menguatkan. Mungkin inilah bentuk jihad kami: tidak mengamuk, tidak kabur. Hanya menerima. Dengan dada lapang dan perut kenyang.

Kami ini bukan siapa-siapa. Tak ada nama kami di daftar panitia, tak tertulis di brosur masjid. Tapi saat darah kami menyentuh tanah, kami tahu: ini bukan sekadar urusan logistik dapur. Ini bukan cuma tentang protein hewani. Ini adalah pelajaran tentang keikhlasan. Tentang bagaimana sesuatu yang kita relakan, bisa menjadi penghubung antara langit dan bumi. Tentang bagaimana dari setiap pahit pengorbanan, tumbuh rasa syukur yang manis di lidah manusia.

Dan jika memang surga bisa dicapai lewat perut yang kenyang dan hati yang tenang, mungkin kami hanyalah pengantar kecil. Kurir tak bernama yang menyampaikan rasa—dari langit, ke piring makan, lalu diam-diam masuk ke dalam jiwa.

Jadi jika nanti kalian duduk melingkar, menikmati daging hangat sambil mengucap hamdalah, kunyahlah perlahan. Rasakan baik-baik. Doakan kami, meski hanya sejenak.

Dan kalau boleh meminta… tolong, jangan terlalu pedas. Kami ingin dikenang dengan lembut.
———————————————

Entah siapa yang benar-benar menulis surat itu. Tapi kami percaya, Allah bisa menyampaikan hikmah-Nya lewat siapa pun—termasuk dari makhluk yang tak bisa menulis tapi mengajarkan keikhlasan lewat daging dan darahnya.

Idul Adha mengingatkan kita bahwa tak ada cinta tanpa pengorbanan, dan tak ada pengorbanan yang sia-sia jika diserahkan kepada-Nya. Semoga kita tak hanya jadi penonton dari kisah Nabi Ibrahim, tapi pelaku kecil dari nilai-nilai yang ia wariskan.

Amin..

Red.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *