SEMARANG – Petenews.co.id- Jateng Nduwe Gubernur To?Pertanyaan ini beberapa kali muncul di media sosial. Bukan di konten sih, tapi lebih banyak di komen. Apapun kontennya, komentar senada seringkali ada. Bisa jadi kamu juga pernah baca. Yo po rak?
Yakin sih, yang menuliskan itu sebenarnya tahu siapa nama gubernur Jateng saat ini. Lebih tepatnya itu satire untuk mempertanyakan kinerja Gubernur Ahmad Luthfie. Eh yang bener nulisnya Ahmad Luthfi tanpa e atau pakai e? Atau Pak Lupi. Setelah tak browsing wikipedia, namanya Ahmad Luthfi.
Balik ke topik yak! Saya coba browsing kalimat “Jateng Nduwe Gubernur To?” yang keluar lebih banyak bahasan di medsos. Konten paling atas di google adalah milik akun Thread bernama @sigitwalker yang diunggah Oktober tahun lalu. Satu kata yang ia tuliskan adalah “Jateng ga nduwe gubernur”.
Tanggapan di kolom komentarnya pun tak kalah seru. Negatif semua! wkwkwkw…
Duwe gubernu siji iki ncen angel owk. Jangan berharap dia sering tampil di media. Apalagi jika dibandingkan gubernur Jateng sebelumnya atau guubernur-gubernur tetangga yang saat ini menjabat.
Umpama ada survei banyak-banyakan tampil di media, entah di media mainstream atau medsos, yakin deh Gubernur Jateng kalah.
Malahan, pernah juga dengar kalau si Gubernur seringkali menyuruh kepala-kepala OPD untuk tampil di media. “Ojo aku terus sing njedul ning media. Kowe kudu tampil memperlihatkan kinerja OPD,” mungkin gitu kira-kira perintahnya dengan logat khas Jawa.
Akhirnya yang sering terlihat bukan gubernur tapi kepala dinas… atau jangan-jangan luwih terkenal kepala dinase ketimbang gubernure. wkwkw…
Tapi janjane kerjo kepala daerah kan ya kudune ncen ngono kuwi ya? Ora mben ono opo-opo kudu deknen sing tampil. Lha opo Superman, opo-opo kudu deknen sing tampil nyelesaikan masalah.
Logikane ngene, pemerintahan itu berjalan dengan sistem. Ada peran manajerial atau sing menentukan kebijakan tapi ada juga bagian eksekutor atau pelaksana. Nah tugase gubernur itu manajerial, jadi kerja di balik layar pun bisa. Kecuali yen pengin tenar lho ya… ono opo-opo cuss… mudun. Seakan-akan jadi superman ndek mau.
Nah, sing kudu sering mudun itu adalah Kepala Dinas dan staf-stafnya.
Contoh riil e ngene. Saiki tak takoni, pelatih Brazil pas juara Piala Dunia terakhir ki sopo? Nah, lak kudu browsing google sik kan? Tapi kalau ditanya siapa saja pemain Brazil saat juara dunia, maka yang suka sepakbola pasti tahu. Ada Ronaldo pelontos, Ronaldinho, Cafu, atau Rivaldo. Kon nyebutke 10, enteng sreng..
Nah, pelatih malah rak terkenal. Ya wajar lah, karena jarang kena sorotan kamera TV. Padahal dialah yang ngotak-atik strategi, ngatur pergantian pemain, kudu menenangkan ruang ganti. Pelatih jugalah yang menentukan siapa saja pemain yang masuk lapangan. Bek ojo nganti dipasang dadi gelandang, kiper ojo dadi striker. Samahalnya dengan Gubernur yang tugasnya manajerial.
Terus apakah gubernur kalau jarang turun dan jarang tampil di media kemudian daerahnya tertinggal? Ndak juga.
Kalau dibalik, kalau gubernurnya sering tampil di media apakah wilayahnya maju? Juga belum tentu.
Mungkin yang jadi persoalan adalah cara pandang masyarakat Jawa Tengah. Bisa jadi mikirnya gini, “Kalau ndak turun ke masyarakat berarti ndak kerja. Kalau ndak tampil di media maka ndak kerja”.
Kalau kinerja gubernur itu tolok ukurnya tampil di media dan cukup turun lapangan maka mudah sekali. Standar kecakapan gubernur ndak perlu yang ndakik-ndakik, cukup influencer atau youtuber saja sudah cukup.
Tapi bukan salah masyarakat Jateng atau warga Indonesia juga sih, jika masih beranggapan “Ndak tampil maka ndak kerja”. Lantaran setidaknya 10 tahun lebih disuguhi tipikal pemimpin yang demikian. Pencitraan.
Penilaian kerja bukan bicara soal data, angka pembangunan, penurunan pengangguran, angka pebangunan rumah tak layak huni, jaminan kesehatan dll… Padahal ini yang terpenting.
Nah, mungkin kekurangan Ahmad Luthfi adalah tidak suka tampil di media sebagaimana harapan warganya. Kalau hasil kinerja, boleh diadu dengan gubernur lain yang sering muncul di media itu.
sumber: Kompasiana.com














