Karanganyar, petenews.co.id
Warga RW 09 Banjarsari, Tawangmangu, menggagas gerakan lingkungan bertajuk “Sampahku Tanggung Jawabku, Sampah Hari Ini Selesai Hari Ini”. Gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif bahwa sampah harus ditangani segera dan diselesaikan di tempat, tanpa perlu dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang jaraknya cukup jauh.
Menurut Darmadi, pemerhati lingkungan sekaligus penggerak kegiatan ini, persoalan sampah harus dituntaskan di wilayah asalnya. “Sampah di Tawangmangu harus berhenti di Tawangmangu. Jangan sampai keluar wilayah. TPA terlalu jauh, dan mobilisasi sampah menimbulkan pencemaran udara serta membuang energi,” jelasnya.

Wilayah RW 09 Banjarsari dipilih sebagai lokasi awal karena volume sampahnya tinggi. Berdasarkan laporan dari Babinsa Sertu Antonius Bambang Siswoyo dan Bhabinkamtibmas Briptu Debi Ardiansyah, masih ada warga yang membuang sampah ke saluran air saat hujan deras. Hal ini memicu inisiatif warga untuk mulai mengelola sampah secara lebih serius.
Solusi datang dari warga sendiri, dengan menciptakan alat kremasi sampah sederhana. Alat ini mampu membakar sampah organik dan anorganik dengan bahan bakar alternatif seperti oli bekas dan minyak goreng. Selain hemat biaya, teknologi ini juga ramah lingkungan karena minim asap.

“Alat ini bisa membakar sekitar 5 sampai 6 kwintal sampah per hari. Dari satu ton sampah, hanya tersisa sekitar 30 kilogram abu. Abunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kerosin, walaupun perlu difermentasi karena kandungan keasamannya,” terang Suwaji, tokoh masyarakat sekaligus relawan penggerak.
Kesadaran warga makin tumbuh. Di RT 05, warga membangun tempat kremasi sampah secara swadaya di ujung selatan kampung. “Sampah ini momok. Harus diselesaikan di tempat. Kami bahkan bekerja sama dengan Suwardi atau Mbah Sedeng, tokoh lokal yang punya keahlian merakit alat ini,” ungkap Djumadi, Kepala Dusun Mbeji.
Gerakan ini menjadi model kolaborasi antara warga, tokoh masyarakat, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Harapannya, pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam bentuk dukungan alat tambahan agar pengelolaan sampah bisa diperluas ke seluruh desa dan kelurahan di Tawangmangu.
Gerakan “Sampahku Tanggung Jawabku, Sampah Hari Ini Selesai Hari Ini” membuktikan bahwa kepedulian lingkungan bisa tumbuh dari bawah—dari warga untuk warga.
Yona-Amir














