Karanganyar, petenews.co.id
Minggu pagi di Balai Posyandu Dusun Karanganyar, Desa Karangbangun, tumpukan sekam padi yang biasanya hanya jadi limbah berubah menjadi bintang utama. Puluhan warga mulai dari kelompok tani, karang taruna, hingga komunitas petani jamur berkumpul bukan untuk membicarakan masalah, tapi untuk belajar mengubah limbah ini menjadi sumber cuan.
Bahan yang sering dianggap tak berguna ini ternyata bisa disulap menjadi baglog jamur yang bernilai jual tinggi. Dengan sentuhan inovasi dari mahasiswa KSI FP UNS, sekam padi yang dulu hanya dibakar kini bisa membuka peluang usaha baru, sekaligus menjadi solusi ramah lingkungan bagi desa, 14/8/25.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), yang didukung oleh Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim pelaksananya berasal dari Kelompok Studi Ilmiah (KSI) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) yang dipimpin oleh Muhammad Ziaul Haq Faiz bersama 14 mahasiswa lainnya, di bawah bimbingan dosen Raden Kunto Adi, S.P., M.P.

Di banyak desa, sekam padi sering hanya dibakar atau dibuang. Padahal, di tangan kreatif, limbah ini bisa menjadi media tanam jamur yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Bapak Dwi Suryono praktisi sekaligus pebisnis baglog jamur dari Polokarto menjelaskan bahwa harga serbuk gergaji bahan utama baglog kini semakin mahal. Petani pun sulit menaikkan harga jual baglog karena pasar tidak menerima. “Kalau sekam padi dimanfaatkan, biaya bisa ditekan dan limbah pertanian berkurang,” ujarnya.
Materi yang dibawakan beliau tidak hanya teori. Peserta diajak melihat langsung proses pembuatan baglog: mulai dari pencampuran sekam padi, sterilisasi media, hingga penanaman bibit jamur.

Acara dibuka dengan sambutan dari ketua tim, dosen pembimbing, hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Matesih, Bapak Suparban. Ia menegaskan bahwa pertanian bukanlah pekerjaan “kotor” yang harus dihindari generasi muda. “Melihat semangat peserta hari ini, saya optimis minat anak muda untuk bertani akan tumbuh kembali,” tuturnya.
Antusiasme peserta pun terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Mulai dari masa pakai baglog, teknik membuat bibit, hingga cara mengatasi penyakit pada jamur semua dibahas tuntas.
Menurut Bapak Sodik, Ketua Kelompok Tani Sumber Gede, inovasi ini akan menarik minat pemuda desa.”Biaya lebih murah, hasil maksimal. Ini peluang usaha yang menjanjikan,” katanya.
Selain membuka peluang pendapatan tambahan, pemanfaatan sekam padi ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs): menciptakan pekerjaan layak (poin 8), mendorong inovasi (poin 9), mengelola limbah secara bertanggung jawab (poin 12), dan membangun kemitraan untuk tujuan bersama (poin 17).
Program ini bukan sekadar praktik lapangan bagi mahasiswa, tetapi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Harapannya, kegiatan seperti ini menjadi langkah awal menghidupkan kembali gairah generasi muda untuk terjun di pertanian dengan cara yang cerdas, bersih, dan berkelanjutan.
Yona.














