Semarang, petenews.co.id – Di tengah hiruk pikuk percepatan pembangunan, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melontarkan sebuah pengakuan jujur yang justru menjadi kekuatan. Di hadapan ribuan relawan yang memadati Gradhika Bakti Praja, Sabtu malam, ia dengan tegas menyatakan, “Kami bukan superman yang semuanya bisa.”
Pernyataan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan fondasi dari filosofi kepemimpinannya: kekuatan sejati terletak pada kebersamaan. Dengan jumlah penduduk mencapai 38,56 juta jiwa yang tersebar di 7.809 desa, membangun Jawa Tengah ibarat merajut hamparan permadani raksasa. Butuh banyak tangan, banyak hati, dan banyak pikiran untuk menciptakan sebuah karya yang utuh dan indah.
“Kami adalah supertim. Kerja tidak boleh sendiri, tidak boleh parsial, tidak boleh menange dewe (menang sendiri),” tegas Luthfi, memecah suasana kebersamaan di malam Ramadhan itu.
Malam itu, Luthfi tidak hanya berbicara tentang program-program fisik seperti infrastruktur, penurunan kemiskinan, atau investasi. Ia mengajak para relawan untuk menyelami sebuah gerakan kolektif yang lebih dalam: sebuah simfoni kolaborasi.
Relawan: Dirigen di Daerah Masing-Masing
Gubernur melukiskan peran relawan bukan sekadar sebagai pendukung, melainkan sebagai dirigen di wilayahnya masing-masing. Mereka adalah kepanjangan tangan pemerintah yang paling luwes, yang bisa menyelami denyut nadi masyarakat hingga ke pelosok.
Tugas mereka disebutnya berlapis. Pertama, sebagai telinga dan mata yang jeli. Relawan diminta aktif menangkap setiap persoalan yang muncul di desa atau kotanya, lalu menyampaikannya kepada pemerintah—baik itu kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat—agar segera ditindaklanjuti. Kedua, setelah masalah teratasi, mereka bertugas menjadi corong keberhasilan, mengabarkan kepada masyarakat bahwa setiap keluhan mendapatkan respons nyata. Rantai komunikasi yang utuh ini adalah kunci membangun kepercayaan.
Perang Narasi di Era Digital
Di era serba digital, Luthfi melihat ada medan pertempuran baru yang tak kalah penting: perang melawan hoaks. Ia menyoroti maraknya informasi tidak utuh, bahkan potongan video yang direkayasa, yang sengaja disebar untuk menggerogoti kepercayaan publik. Di sinilah relawan diharapkan menjadi benteng informasi yang menangkal narasi-narasi menyesatkan.
“Apapun yang dikatakan masyarakat di media sosial adalah cambuk bagi kita sebagai pejabat publik untuk lebih giat bekerja. Saya yakin masyarakat Jawa Tengah masih punya hati nurani dalam rangka tepa selira dan gotong royong,” imbuhnya.
“Menjual” Jawa Tengah dengan Adab dan Sopan Santun
Lebih jauh, Luthfi bahkan mendorong para relawan dan seluruh pemimpin daerah untuk berperan sebagai “manajer marketing” yang ulung. Tugas mereka adalah “menjual” potensi unggulan wilayah masing-masing untuk menarik investor. Namun, ia mengingatkan bahwa syarat utama investasi adalah jaminan keamanan, ketertiban, dan yang tak kalah penting, adab.
“Jangan sampai ada iri, dengki, atau perkataan tidak etis. Jawa Tengah punya adigang adigung adiguna, punya tata krama yang mengedepankan sopan santun dan ketenteraman. Jika ada yang tidak puas, jadikan itu sebagai spirit untuk terus bekerja,” pesannya.
Di akhir sambutannya, Gubernur yang akrab dengan para relawan itu mengajak semua elemen untuk bergerak dalam irama yang sama. Ia mengingatkan prinsip “saling asah, asih, asuh” sebagai perekat persatuan. Dengan semangat supertim, dengan gotong royong yang menjadi nafas bangsa, dan dengan adab sebagai perisai, Ahmad Luthfi optimis pembangunan di Jawa Tengah tidak hanya akan berjalan cepat, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Ayo membangun Jawa Tengah dengan sopan santun dan bersama-sama!” ajaknya, disambut antusiasme para relawan yang siap turun tangan menjadi bagian dari simfoni perubahan di Bumi Pertiwi.(Hamdi/red)














