BATANG, petenews.co.id – Kebiasaan merasa paling benar sering kali menjebak manusia menjadi hakim bagi dunia sekitarnya. Padahal, tanpa disadari, peran itu justru bisa menyeret seseorang ke dalam konflik batin dan keberpihakan yang sempit. Dari kegelisahan itulah Sinau Bareng Tanbihunan kembali digelar dengan tema “Mewasiti Ijo–Abang”.
Forum yang diinisiasi Omah Tanbihun ini akan berlangsung pada Sabtu malam Ahad Wage, 31 Januari 2026, pukul 20.00 WIB hingga selesai, bertempat di Joglo Mberan, seberang Hutan Kota Rajawali, Jalan Dr. Sutomo No.17a, Beran, Watesalit, Kabupaten Batang. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum, mengajak siapa pun untuk hadir dan melingkar bersama.
Tema Mewasiti Ijo–Abang tidak dimaknai secara harfiah sebagai pertandingan atau olahraga, melainkan sebagai simbol kehidupan. Wasit digambarkan sebagai sosok penengah—bukan penyerang, bukan pula pembela—yang keberadaannya justru menjaga agar permainan tetap adil dan tidak runtuh oleh kepentingan sepihak.
Dalam Sinau Bareng Tanbihunan, peserta diajak memahami bahwa prinsip utama seorang wasit adalah kejujuran melihat peristiwa, bukan terpaku pada siapa pelakunya. Prinsip inilah yang dinilai kian relevan di tengah masyarakat yang mudah terpolarisasi oleh identitas, warna politik, golongan, maupun sentimen emosional.
Namun diskusi tidak berhenti pada ranah sosial. Forum ini juga mengajak peserta masuk lebih dalam ke wilayah batin. Sebuah pertanyaan mendasar dihadirkan: apakah dorongan untuk mengoreksi orang lain benar-benar lahir dari niat menegakkan keadilan, atau justru dari kegaduhan yang belum selesai di dalam diri sendiri?
Panitia mengingatkan, tanpa kesadaran batin, niat menjadi wasit bisa berubah arah. Seseorang yang awalnya ingin meluruskan, justru ikut larut sebagai pemain—menyalahkan, mencemooh, bahkan menghina. Di sinilah Sinau Bareng Tanbihunan hadir sebagai ruang belajar, bukan ruang mengadili.
Dengan format melingkar dan dialogis, forum ini mendorong peserta untuk saling mendengar, bukan saling mengalahkan. Peserta diajak menelusuri satu demi satu lapisan kesadaran, hingga akhirnya berani bertanya pada diri sendiri: pertandingan apa yang sebenarnya sedang kita jalani dalam hidup ini?
Melalui Sinau Bareng Tanbihunan, Omah Tanbihun berharap nilai keadilan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh sebagai sikap hidup. Sebuah ikhtiar merawat keseimbangan, meneguhkan jalan tengah, dan menghidupkan semangat ummatan wasathan—adil, bijak, dan berakar pada nurani.(Ham/red)














