JULIYATMONO: Jejak Tenang Seorang Guru yang Membangun Kabupaten dan Merawat Bangsa

Oleh: Ilyas Akbar Almadani., S.IP., M.A

Karanganyar, petenews.co.id

Dari Guru Desa ke Arsip Sejarah Publik

Juliyatmono lahir di Kaliboto, Mojogedang, dari keluarga pendidik. Ayahnya adalah guru, dan Juliyatmono sendiri memulai kariernya sebagai guru sebelum masuk politik. Kariernya bukan tumbuh dari dinasti atau jalur instan, tapi dari disiplin, komunikasi yang baik, dan keterlibatan dalam kehidupan sosial–kultural rakyat.

“Saya ini anak guru, tidak pernah membayangkan menjadi Bupati. Tapi saya tahu betul arti melayani.”
(Juliyatmono, saat sambutan pelantikan periode kedua, 2018. Sumber: Solopos, 14 Februari 2018)

Kekuasaan dalam Pendekatan Steven Lukes

Steven Lukes membagi kekuasaan menjadi tiga dimensi:
1. Keputusan langsung
2. Kontrol agenda
3. Pembentukan makna (ideologi)
(Steven Lukes, Power: A Radical View, 2005)

Juliyatmono tidak hanya membuat keputusan administratif. Ia juga menentukan isu apa yang layak dibicarakan di Karanganyar dan makna apa yang dikaitkan dengan kepemimpinan—hal inilah yang membuatnya dihormati lintas kubu.

Pembangunan Ikonis dan Simbol Kultural

Masjid Agung Madaniyah

Diresmikan 2022, masjid ini jadi ikon religi dan wisata. Dibangun dengan anggaran multiyears dan desain modern, lokasinya di pusat kota menjadikannya pusat aktivitas sosial.
(Sumber: karanganyarkab.go.id, 2022; Solopos, 3 April 2022)

Stadion 45 Karanganyar

Stadion berstandar nasional yang digagas sejak 2019 dan rampung 2022 ini menjadi pusat kegiatan olahraga, terutama untuk NPC (National Paralympic Committee).
(Sumber: TribunSolo, 18 Agustus 2022)

Revitalisasi Pasar & Perpustakaan Karanganyar

Selama 2018–2021, Juliyatmono mempercepat renovasi Pasar Jatiyoso, Pasar Karangpandan, dan membangun Perpusda Karanganyar berbasis digital.
(Sumber: Dinas Perindustrian & Perdagangan Karanganyar, LPSE 2020–2021)

Jalur Dana & Efisiensi Anggaran

Juliyatmono terkenal sebagai kepala daerah yang disiplin anggaran dan efisien birokrasi.
• Tahun 2022, Pemkab Karanganyar memperoleh Rp150 miliar dana pusat untuk peningkatan jalan dan jembatan lintas desa.
(Sumber: Kementerian PUPR, realisasi APBN Karanganyar 2022)
• Selama dua periode, Karanganyar menerima WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK secara berturut-turut.
(Sumber: bpk.go.id, Laporan Pemeriksaan LKPD Karanganyar 2014–2022)

Kekuasaan yang Tidak Membentak

Juliyatmono mempraktikkan kekuasaan kultural yang menjangkau emosi publik, bukan sekadar perintah administratif.
• Ia aktif hadir dalam pengajian-pengajian NU, Muhammadiyah, hingga peringatan agama minoritas.
(Sumber: Instagram @karanganyarkab, 2017–2023)
• Melalui program “ASN Mengaji dan Jumat Berbagi”, ia membangun model kepemimpinan yang menyentuh hati pegawai, bukan hanya memberi instruksi.
(Sumber: BKD Karanganyar, 2021)

Pemimpin Tanpa Jarak

Juliyatmono dikenal dekat dengan RT, takmir masjid, dan petani. Ia menyempatkan hadir di acara sunatan, haul, dan musyawarah warga. Bagi rakyat, ini bukan hal sepele. Kedekatan itu membangun kepercayaan yang tidak bisa direkayasa di masa kampanye.

“Beliau itu hadir saat tidak ada pemilu. Itu yang kami ingat.”
(Wawancara Penulis dengan Kepala Desa Wonorejo, 2022)

Transisi Mulus ke DPR RI Komisi X

Setelah 10 tahun menjadi bupati, Juliyatmono mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar. Ia terpilih dan duduk di Komisi X DPR RI, yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan pemuda.
• Fokus Juliyatmono di DPR adalah:
• Perluasan beasiswa untuk siswa desa
• Penguatan sekolah berbasis karakter
• Penguatan seni & warisan budaya lokal

(Sumber: dpr.go.id, Profil Anggota Komisi X, 2024)

Figur Tanpa Gegap Gempita, Tapi Menyeluruh

Juliyatmono tidak memimpin dengan simbol-simbol kekuasaan yang berisik. Ia memimpin dengan stabilitas, kebersahajaan, dan kesinambungan narasi. Pendekatannya cocok dengan dimensi ketiga Steven Lukes:

“Power is most effective when it is invisible.”

Selama menjabat, ia menghindari konflik, meminimalisir reshuffle, dan menjaga hubungan baik lintas agama, partai, bahkan oposisi.

Warisan Kepemimpinan dan Potensi 2029

Bagi masyarakat Karanganyar, Juliyatmono bukan hanya pemimpin masa lalu, tapi harapan masa depan. Suara rakyat mulai menyebut namanya dalam survei internal dan forum warga. Sosoknya tidak perlu mendeklarasikan pencalonan, karena jejaknya sudah lebih kuat dari spanduk kampanye.

“Kami lebih percaya pemimpin yang pernah bekerja daripada yang baru menjanjikan.”
(Data Penulis, dengan Warga Tasikmadu, 2024)

Kesimpulan: Guru yang Tidak Berhenti Mengajar, Meski Panggungnya Berubah

Dari papan tulis di desa, Juliyatmono kini menulis bab sejarah baru di Senayan. Ia tidak memaksakan diri menjadi “tokoh nasional”, tapi justru dengan itu ia layak disebut nasional—karena membawa nilai-nilai lokal yang besar: disiplin, tenang, dan berpihak pada rakyat.

Kekuasaan Juliyatmono adalah versi terbaik dari teori Lukes—bukan hanya tampak, tapi juga mengakar dalam budaya, membentuk realitas, dan menciptakan stabilitas tanpa ketakutan.

Referensi:
1. Steven Lukes. Power: A Radical View. Palgrave Macmillan, 2005.
2. Solopos, “Juliyatmono Resmi Jabat Bupati Karanganyar,” 2013–2018
3. bpk.go.id, Laporan Pemeriksaan LKPD Karanganyar 2014–2022
4. dpr.go.id, Profil Anggota DPR Komisi X, 2024
5. karanganyarkab.go.id, Dokumentasi pembangunan 2015–2023
6. TribunSolo, MetroJateng, RadarSolo, wawancara dan arsip lokal
7. Wawancara dengan warga dan tokoh masyarakat Karanganyar, 2022–2024.

MK.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *