Arvindo Noviar : “Penghuni Pohon, Maung dan Gado-gado.”

Jakarta, petenews.co.id

Di sebuah sekolah di negeri asing, Prabowo Subianto remaja pernah mendapat ejekan dan gelak tawa yang menempatkan bangsanya sebagai kaum yang dianggap penghuni pepohonan dan terlambat evolusi. Ejekan itu membuka tabir betapa sebagian dunia masih memandang rakyat negeri ini sebagai bangsa yang belum selesai memerdekakan kehormatan, baik dalam ilmu maupun kemandirian. Ia membawa pulang ejekan itu sebagai kesadaran bahwa harga diri harus ditegakkan setinggi-tingginya, kendati wajah dilabur jelaga hitam sejarah.

Di lain waktu, Prabowo Subianto mengalami hal serupa di kolam renang Manggarai. Saat melatih juniornya di TNI, ia melihat huruf-huruf tua bertuliskan larangan bagi pribumi untuk masuk, dengan kata pribumi disejajarkan dengan anjing. Kalimat itu menancap kuat di alam pikirannya dan menjadi rekaman betapa kekuasaan kolonial pernah menjadikan manusia Indonesia sebagai alas kaki sejarah.

Sejarah mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak pernah otomatis menghadirkan kedaulatan. Negara harus menata kekuatan dan membangun kapasitas untuk berpikir serta bertindak sebagai subjek peradaban. Kita harus berani menjawab pertanyaan mendasar tentang bentuk bangsa yang ingin kita wujudkan, dan keberanian itu hanya lahir bila kita mengakhiri ketergantungan. Kepribadian bangsa sering tertahan oleh rasa rendah diri yang diwariskan oleh sejarah kolonialisme, sehingga kita lupa bahwa persatuan adalah jaring kepercayaan yang harus terus dirawat sebagai simpul yang tak boleh ditawar. Harga diri bangsa ditentukan oleh kemampuannya menguasai pengetahuan dan mengorganisir rakyat agar mampu berdiri secara mandiri.

Namun sejarah juga mencatat bahwa di tengah penghinaan dan keterbatasan, selalu hadir manusia yang pantang menyerah.Karena itu, memori kolektif Presiden Prabowo tak hanya diisi rasa terhina belaka. Saat B. J. Habibie memimpin lahirnya teknologi dirgantara nasional yang dibangun dari jaringan riset, disiplin insinyur, dan keberanian berinovasi di tengah keterbatasan, bangsa ini belajar bahwa kedaulatan adalah hak bagi mereka yang gigih memperjuangkannya. Di hanggar yang menjadi saksi keberangkatan pesawat N-250 Gatotkaca untuk pertama kalinya, Prabowo merasakan bahwa kedaulatan bukan sekadar cita-cita, melainkan kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Hari ini dunia sedang bergerak dalam arus persaingan yang semakin menajam di bidang ekonomi, teknologi, dan keamanan. Negara-negara berpacu menguasai energi masa depan, bahan baku strategis, jalur logistik, serta pusat inovasi yang menentukan arah perkembangan peradaban. Perdagangan menjadi gelanggang untuk mengatur aliran kemakmuran, sementara teknologi menentukan siapa yang berhak memiliki kemandirian dalam mesin produksi, komunikasi, dan pertahanan modern. Ruang siber berubah menjadi benteng sekaligus medan operasi yang menentukan siapa yang mengendalikan informasi dan data miliaran manusia.

Di kawasan Indo-Pasifik, tanda-tanda kompetisi semakin jelas. Laut yang menjadi jalur hidup perdagangan dunia kini dipenuhi kepentingan besar yang saling mendorong batas pengaruh hingga menimbulkan gesekan yang tak lagi bisa ditutupi diplomasi. Garis klaim saling bertemu, armada bersiaga, dan setiap keputusan negara di kawasan ini dihitung sebagai langkah yang dapat menggeser keseimbangan. Indonesia berada di titik yang menentukan. Posisi geografis yang menghubungkan dua samudra dan dua benua bukan hanya kebetulan sejarah, melainkan mandat untuk tampil sebagai kekuatan yang dihormati. Untuk itu, negeri ini harus mengubah letak strategis menjadi kemampuan strategis, memastikan bahwa yang kita miliki bukan hanya ruang yang luas, tetapi pengetahuan, industri, dan persatuan yang menegakkan kedaulatan di tengah kompetisi global yang keras.

Karena itu, strategi nasional tidak boleh berhenti pada pertahanan konvensional semata. Presiden Prabowo mendorong koperasi desa yang berdaya menjadi pabrik kecil yang mengangkat kelas produsen rakyat, agar wilayah terpinggir turut menjadi bagian aktif pembangunan. Hilirisasi rempah-rempah dan hasil bumi menjadi proyek ekonomi yang membangun industri berbasis rakyat, mulai dari Sabang sampai Merauke, sehingga kita tidak lagi mengirim bahan mentah dan menunggu nilai tambah di negeri lain. Sekolah rakyat menjadi kawah candradimuka bagi generasi yang mempersenjatai dirinya dengan sains, teknologi, etos kerja, dan kesadaran kebangsaan. Dari ketahanan pangan hingga riset energi, semua lini ditata sebagai satu rancang bangun agar bangsa ini mampu memegang kendali atas dirinya sendiri.

Presiden paham betul bahwa rakyat membutuhkan kebanggaan, dan rakyat yang bangga dengan negaranya adalah embrio kebangkitan nasional. Maka sejak awal, Presiden memperkenalkan Maung. Maung, kendaraan taktis 4×4 yang dikembangkan oleh PT Pindad, kini dalam wacana menjadi mobil dinas pejabat negara. Kebijakan itu bukan sekadar urusan alat transportasi, melainkan isyarat bahwa bangsa ini mampu menciptakan kendaraan yang lahir dari pengetahuan dan kehayatan sejarahnya sendiri. Presiden telah menyatakan bahwa Maung akan digunakan oleh para menteri dan pejabat tinggi sebagai kendaraan resmi. Kebijakan itu memastikan bahwa anggaran negara bekerja untuk memperbesar kemampuan industri kita sendiri, memperluas kesempatan kerja, dan menumbuhkan keahlian yang memperkuat kemandirian teknologi. Setiap baut dan plat yang menyatu dalam tubuh Maung adalah klaim bahwa bangsa yang memiliki kemandirian industri adalah bangsa yang menolak diinjak kembali dalam percaturan dunia.

Sebab sejarah rakyat kita adalah sejarah kesanggupan untuk bangkit sekalipun dihina dan didera oleh arus kekerasan kolonial. Kini tugas kita bukan lagi mengusir penjajah dari tanah air, melainkan mengusir rasa rendah diri dari dada generasi muda. Di situlah makna Maung menemukan rumahnya sebagai energi psikologis bangsa yang menegakkan kepala menghadapi dunia.

Maka cita-cita besar yang sudah dipikul Presiden Prabowo sejak masa kanak-kanaknya harus dijaga bersama. Kita harus segera menyatukan segenap kekuatan menjadi perisai untuk menghadang ancaman yang datang dalam bentuk simetris maupun asimetris, dari tekanan ekonomi hingga penetrasi informasi, dari perebutan sumber daya hingga upaya mengaburkan kedaulatan di ruang yang tak kasat mata.

Kita juga harus segera menyudahi perselisihan yang memecah energi nasional. Perbedaan suku, agama, ras, golongan, kelompok, dan lembaga, termasuk korsa, tidak boleh lagi menjadi alasan untuk saling meniadakan. Kita ini beragam yang bersatu, seperti sepiring gado-gado yang menghimpun hijau sayuran, cokelat kacang, merah kerupuk, dan warna-warna lain tanpa harus melebur menjadi bubur. Sebab kekuatan Indonesia tidak pernah bertumpu pada satu warna di atas yang lain.

Tugas kita bukan hanya membuktikan bahwa kita bukan lagi bangsa yang bisa diejek sebagai penghuni pohon, tetapi menunjukkan bahwa dari akar yang menembus bumi dan daun yang merentang ke langit, tumbuh bangsa yang memayungi martabat manusia.

Red.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *