Jakarta, petenews.co.id
Dalam politik tingkat tinggi, provokasi nyaris selalu datang dari celah-celah. Dari oposan yang kehabisan gagasan, media lokal binaan asing yang hidup dari sensasi, tukang gosip politik, hingga kader-kader yang terlalu cepat merasa paling tahu peta. Mereka gemar membentur-benturkan nama besar republik ini.
Nama Bang Dasco, Pak Hashim, lalu belakangan Pak Safrie, dan seterusnya, kerap diseret ke dalam narasi permusuhan. Digambarkan seperti musuh bebuyutan yang setiap hari bertengkar. Setiap isu ditulis sebagai situasi genting. Informasi remeh diberi judul bombastis. Air galon tumpah diberitakan sebagai banjir bandang, 13/12/25.
Padahal, di level kepemimpinan negara, urusan personal sudah lama ditinggalkan. Mereka terlalu besar untuk menghabiskan energi pada sentimen kecil. Yang ada hanyalah perbedaan pandangan dalam mengelola negara.
Jika sesekali tampak ada gesekan, hampir selalu itu soal tata kelola. Soal peta jalan, soal kepentingan publik, soal keputusan strategis yang memang menuntut perdebatan. Dalam kondisi demikian, gesekan bukan aib. Ia justru mekanisme kerja. Karena itu pula, biasanya cepat menemukan jalan keluar.
Di lingkaran mereka, mencari titik equilibrium dalam persoalan paling pelik sering kali cukup dengan satu hal sederhana: meluangkan waktu untuk duduk bersama.
Suatu hari nanti, jika usia sampai dan Tuhan mengizinkan kita berada di posisi tersebut. Aamiin. Kita akan memahami satu hal. Bahwa gesekan yang dari jauh tampak tajam dan dramatis itu, sering kali tak lebih dari romantisme dinamis para pengelola negara dalam bekerja.
Tabik Ampun š.
Red.














