BATANG petenews.co.id— Peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Kabupaten Batang, Selasa (21/4/2026) malam, yang semestinya menjadi panggung perayaan, mendadak berubah menjadi ruang “pengadilan moral” ketika KH Anwar Zahid naik mimbar.
Bukan sekadar tausiyah biasa, ceramah yang disampaikan justru terasa seperti peluru kritik yang ditembakkan langsung ke jantung kekuasaan—tanpa pelindung, tanpa basa-basi.
Di hadapan pejabat lengkap—mulai dari Dandim, Polres Batang (Kapolres Batang), hingga Bupati—KH Anwar Zahid membuka ceramahnya dengan “peringatan halus” yang sebenarnya keras.
“Tak kasih bocoran ya, ijin ndan. Gak usah kaget, saya memang kayak gini…” ucapnya, seolah memberi aba-aba bahwa yang akan disampaikan bukan ceramah biasa.
Lalu, ia langsung menghantam isu paling sensitif: proyek.
“Proyek Koperasi Desa Merah Putih… satu kabupaten Batang berapa desa? Satu desa satu koperasi… anggarannya berapa? Hayo… belum lagi proyek dapur Makan Bergizi Gratis,” katanya, dengan nada yang berubah serius.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia seperti membuka “dapur” kekuasaan—menunjukkan betapa besarnya potensi uang negara yang beredar di balik program-program tersebut.
Dan di titik itulah, sindiran berubah menjadi serangan telak.
“Setan meliputi jenengan terus ndan… menggiurkan!”
Sontak, tawa jamaah meledak. Tapi pesan yang tersirat jauh lebih dalam: kekuasaan selalu datang bersama godaan.
Tak berhenti di situ, KH Anwar Zahid memperluas “serangan” ke arah Kapolres Batang.
“Wong Kapolres Batang aja pingin… asli, tapi bukan wilayahnya,” celetuknya tajam.
Di atas panggung, ekspresi para pejabat menjadi sorotan. Dandim Batang hanya tersenyum tipis sambil melirik sang penceramah, sementara Kapolres Batang juga tampak menahan tawa—sebuah reaksi yang justru menegaskan bahwa sindiran itu “kena sasaran”.
Namun, bagian paling keras justru datang ketika KH Anwar Zahid menggambarkan praktik kekuasaan dengan metafora yang vulgar namun nyata: bisikan setan.
“Kapolres dibisiki syaitan… golek proyek liane. Ada orang mendirikan pabrik, parani… ada atensi-atensi. Kalau tidak, jangan kasih ijin!”
Kalimat ini sontak mengubah suasana. Tawa masih ada, tapi mulai bercampur dengan keheningan. Karena yang disentil bukan lagi guyonan, melainkan realitas yang sering dikeluhkan masyarakat: permainan izin, tekanan, dan aroma kepentingan di balik kebijakan.
Di hadapan Bupati Batang, KH Anwar Zahid bahkan seperti “menantang konsekuensi” dari ceramahnya sendiri.
“Saya ngomong gini, ijin Pak Bupati… kapok ngundang saya,” ujarnya blak-blakan.
“Wong kabupaten bukan Batang saja… yang antri banyak!”
Pernyataan itu seperti tamparan terbuka: ia tidak takut kehilangan panggung, selama kebenaran tetap disampaikan.
Tak hanya pejabat, tokoh agama lokal pun ikut “dipanggil”.
“Ijin kyai-kyai… ayo Ketua MUI Batang ngomong koyo ngene. Ayo wani pora?”
Tantangan itu menggantung di udara—menjadi pertanyaan besar tentang keberanian moral: siapa yang benar-benar berani bicara jujur di tengah kekuasaan?
Ceramah tersebut akhirnya bukan lagi sekadar hiburan religi. Ia berubah menjadi cermin besar yang memantulkan wajah kekuasaan—dengan segala godaan, celah, dan potensi penyimpangannya.
Momentum HUT ke-60 Batang pun terasa berbeda. Di tengah gemerlap seremoni, ada pesan yang menghantam keras:
Bahwa jabatan bukan hanya soal kehormatan, tapi juga ladang ujian.
Bahwa proyek bukan sekadar program, tapi juga godaan.
Dan bahwa diam bisa jadi lebih berbahaya daripada kritik yang menyakitkan.
Hingga acara usai, tidak ada klarifikasi, tidak ada bantahan. Hanya senyum para pejabat—dan tepuk tangan panjang dari masyarakat yang merasa, untuk sekali ini, suara mereka benar-benar terwakili. (Hamdi/red)














