Kendal, petenews.co.id— Upaya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digencarkan melalui pelibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya dilakukan oleh produk susu asal Boyolali, Kapten Factory, yang menggelar sosialisasi dan edukasi gizi kepada para siswa penerima manfaat di MI NU 56 Krajan Kulon, Kendal, Selasa (14/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh owner Kapten Factory, Tentra Nela Putri, yang memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya konsumsi susu berkualitas sebagai bagian dari pola makan sehat dalam program MBG.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tampak antusias mengikuti edukasi yang tidak hanya membahas manfaat susu, tetapi juga proses pengolahan produk dari hulu hingga hilir. Mulai dari susu segar, hingga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti yoghurt dan keju mozzarella.
“Respon dari penerima manfaat sangat baik. Anak-anak senang dan mulai memahami pentingnya gizi dari susu,” ujar Tentra.
Namun di balik respons positif tersebut, masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya adalah belum optimalnya penerimaan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terhadap produk susu pasteurisasi dari UMKM.
Menurut Tentra, masih ada kesalahpahaman terkait produk susu. “Ketika kami jelaskan tentang susu pasteurisasi, mereka belum sepenuhnya paham. Bahkan ada yang membandingkan dengan susu kemasan kotak, padahal itu prosesnya berbeda,” jelasnya.
Sebagai solusi, Kapten Factory tidak hanya melakukan edukasi di sekolah, tetapi juga membuka akses kunjungan langsung ke tempat produksi. Program ini bahkan dikembangkan menjadi konsep edukasi wisata, di mana peserta dapat melihat langsung proses pembuatan yoghurt dan keju mozzarella.
Selain itu, Kapten Factory juga mulai dipercaya sebagai mentor edukasi, termasuk untuk kalangan kampus. Dalam waktu 2–3 bulan terakhir, jangkauan distribusi produk mereka telah meluas ke 9 kabupaten/kota di Jawa Tengah, bahkan hingga Madura.
Dari sisi produksi, Kapten Factory saat ini mampu menghasilkan sekitar 15.000 hingga 20.000 botol susu per hari, dengan kandungan 80 persen susu murni tanpa tambahan gula serta diperkaya zinc. Produk ini juga diklaim tetap kompetitif dari sisi harga.
Tak hanya berkontribusi pada gizi masyarakat, usaha ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal. Saat ini, sekitar 35 orang telah terserap dalam unit usaha yang terus berkembang tersebut.
Ke depan, Kapten Factory menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 50.000 botol per hari, seiring dengan meningkatnya kebutuhan dalam program MBG.
Program MBG sendiri mendapat payung hukum kuat melalui Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, yang secara tegas mewajibkan SPPG untuk memprioritaskan penggunaan produk lokal, termasuk dari UMKM, koperasi, hingga BUM Desa.
Dalam regulasi tersebut juga ditegaskan bahwa SPPG tidak boleh menolak pasokan dari pelaku usaha lokal seperti peternak, nelayan, dan UMKM sekitar. Bahkan, terdapat sanksi bagi pihak yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.
Kebijakan ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memastikan kualitas gizi masyarakat, melalui keterlibatan langsung pelaku usaha lokal dari hulu hingga hilir.
Dengan kolaborasi antara program pemerintah dan UMKM seperti Kapten Factory, program MBG tidak hanya menjadi solusi gizi nasional, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat berbasis lokal. (Hamdi/red)
Kapten Factory Berikan Edukasi Gizi di MI NU 56 Krajan Kulon Kendal














