Sultan Sepuh Cirebon Mengecam Perusakan Ndalem Tumenggungan: “Ini Pendzoliman Terhadap Warisan Leluhur!”

Surakarta, petenews.co.id

Gelombang kecaman terhadap perusakan bangunan cagar budaya Ndalem Tumenggungan, Taman Putra Mangkunegaran, Surakarta, semakin meluas. Kali ini, Sultan Sepuh Kesultanan Kasepuhan Cirebon, sebagai salah satu tokoh adat penting Nusantara, menyampaikan pernyataan resmi yang penuh keprihatinan dan kecaman keras terhadap aksi tersebut.

Dalam pernyataannya, Sultan Sepuh menyebut peristiwa pembongkaran Ndalem Tumenggungan bukan sekadar tindakan merobohkan bangunan tua, tetapi sebuah bentuk penghinaan terhadap sejarah, warisan leluhur, dan jati diri bangsa.

Pernyataan Resmi Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon
Atas Perusakan Bangunan Cagar Budaya di Ndalem Tumenggungan, Taman Putra Mangkunegaran Surakarta.

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Rahayu, Wilujeng, dan Salam Kebudayaan.

Sebagai Sultan Sepuh dari Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon dan bagian dari keluarga besar peradaban Nusantara dan jati diri bangsa ini, dengan ini Saya menyampaikan rasa duka dan keprihatinan yang mendalam atas tindakan perusakan terhadap bangunan cagar budaya Ndalem Tumenggungan, Taman Putra Mangkunegaran, Surakarta.

Peristiwa ini bukan sekadar pengrusakan fisik sebuah bangunan tua, tetapi merupakan bentuk pendzoliman terhadap sejarah, warisan leluhur, dan jati diri bangsa. Bangunan-bangunan cagar budaya adalah saksi peradaban, jejak kearifan lokal, serta simbol kehormatan yang tidak ternilai oleh apapun.

Saya dengan tegas menyatakan bahwa pelestarian warisan budaya adalah tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa, termasuk pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat. Maka dari itu, diperlukan langkah tegas untuk menindak pelaku dan memastikan hal serupa tidak terjadi di kemudian hari.

Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan dan rakyat Indonesia untuk semakin menyadari pentingnya menjaga warisan budaya, sebagai bagian dari memperkuat identitas dan kehormatan bangsa di mata dunia.

Demikian pernyataan ini Saya sampaikan, sebagai bentuk panggilan nurani dari seorang anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, adat, dan sejarah leluhur Nusantara.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nuwun, Rahayu, Wilujeng.

“Bangunan-bangunan cagar budaya adalah saksi peradaban, jejak kearifan lokal, serta simbol kehormatan yang tidak ternilai oleh apapun,” tegas beliau.

 

Sultan Sepuh juga menekankan bahwa pelestarian warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama seluruh anak bangsa. Ia meminta adanya langkah tegas dari pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindak para pelaku perusakan dan menjamin kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Pernyataan ini datang di tengah sorotan publik terhadap Guruh Adi, sosok yang disebut mendapat kuasa dari pemilik sah untuk merevitalisasi kompleks Ndalem Tumenggungan. Alih-alih revitalisasi, publik dikejutkan dengan proses perobohan bangunan, termasuk joglo tua yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas budaya Jawa.

Reaksi keras Sultan Sepuh ini memperkuat suara masyarakat dan pemerhati budaya yang mendesak perlindungan terhadap situs-situs sejarah. Ia pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk lebih sadar dan aktif menjaga warisan budaya, demi memperkuat identitas bangsa di mata dunia.

“Ini adalah panggilan nurani, dari seorang anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, adat, dan sejarah leluhur Nusantara,” tutup Sultan Sepuh.

Dukungan dari tokoh adat seperti Sultan Sepuh diharapkan menjadi tekanan moral bagi para pengambil kebijakan, serta membuka kembali diskusi serius tentang urgensi perlindungan cagar budaya di seluruh Indonesia.

Red.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *