Jakarta, petenews.co.id
Suasana penuh kehangatan dan rasa kekeluargaan menyelimuti kediaman sekaligus Kantor DPP Pusat Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) yang berlokasi di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Ketua Umum SWI, H. Iskandar S.Sos, menerima kunjungan istimewa dari seorang warga penyandang disabilitas dengan tangan terbuka dan penuh rasa hormat pada Kamis hari ini.
Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah momentum refleksi diri yang mendalam bagi seluruh jajaran keluarga besar SWI.
Kepada media, H. Iskandar S.Sos menyampaikan rasa syukur dan harunya atas kedatangan tamu yang ia sebut sebagai “Hamba Tuhan” pilihan tersebut. Menurutnya, keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk memiliki pemikiran yang luar biasa.

“Alhamdulillah, hari ini saya sebagai Ketum SWI menerima tamu hamba Tuhan. Walaupun beliau memiliki keterbatasan atau cacat pada kakinya, tetapi pikiran dan spiritnya sama sekali tidak cacat. Ini adalah anugerah dan pelajaran berharga dari Tuhan untuk kita semua,” ungkap H. Iskandar dengan penuh takzim.
Sikap responsif dan rendah hati yang ditunjukkan oleh H. Iskandar ini menegaskan bahwa SWI adalah organisasi yang inklusif, humanis, dan tidak membeda-bedakan latar belakang sesama. Beliau menegaskan bahwa jika masyarakat dengan keterbatasan saja disambut dengan penuh penghormatan, maka sudah menjadi kewajiban mutlak bagi organisasi untuk merangkul dan melayani seluruh anggota SWI dengan jauh lebih baik.
“Orang yang memiliki keterbatasan fisik saja saya terima dengan tangan terbuka dan penuh rasa hormat, apalagi orang-orang atau keluarga besar SWI sendiri. Sudah pasti harus dan wajib saya terima dengan baik. Terima kasih atas kunjungan dan pelajaran hidup yang luar biasa ini,” tambah Ketum SWI.
Pertemuan yang berlangsung santai namun khidmat ini diakhiri dengan diskusi ringan dan foto selfie bersama. Kehadiran tamu istimewa ini diharapkan dapat memicu semangat bagi seluruh pengurus dan anggota SWI di seluruh Indonesia untuk terus bergerak maju tanpa menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya.
Red.














