Semarang, petenews.co.id
Perjalanan karier Adnas di dunia pengabdian publik membentang dari institusi kepolisian hingga lingkaran strategis pemerintahan daerah, sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Komisaris Utama Independen di Bank Jateng.
Pria kelahiran Payakumbuh ini mengawali karier panjangnya di kepolisian dan menutup masa tugasnya dengan jabatan Kapolda Gorontalo. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian sebagai Widyaiswara Utama di Sespim Lemdiklat Polri, lembaga pendidikan dan pengembangan kepemimpinan di lingkungan Polri.
Pada fase berikutnya, Adnas kembali dipercaya di ranah pemerintahan daerah. Ia tercatat sebagai Tenaga Ahli Bidang Hukum, Keamanan, dan Kedaulatan Energi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada periode 2023–2024, yang memperluas keterlibatannya dalam isu kebijakan publik di tingkat regional.

Di Bank Jateng, Adnas masuk dalam jajaran pengawas dengan mandat memperkuat tata kelola perusahaan. Ia menegaskan peran pengawasan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis dalam memastikan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) berjalan konsisten di seluruh lini organisasi.
Dalam membaca arah pengawasan ke depan, Adnas menggunakan pendekatan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) untuk memetakan posisi perusahaan di tengah perubahan industri perbankan yang semakin cepat.
Ia menilai Bank Jateng memiliki fondasi yang kuat, mulai dari dukungan pemegang saham daerah, jaringan layanan yang luas di Jawa Tengah, hingga tingkat kepercayaan publik yang relatif stabil.
Faktor tersebut, menurutnya, menjadi modal penting dalam menjaga kinerja dan memperkuat implementasi GCG.
“Bank Jateng memiliki dukungan kuat dari pemerintah daerah sebagai pemegang saham, jaringan layanan yang luas, serta kepercayaan masyarakat yang tinggi. Ini menjadi modal penting dalam memperkuat kinerja dan tata kelola,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/6/2026).
Meski demikian, ia juga menyoroti peluang besar yang masih bisa dikembangkan, terutama pada akselerasi digitalisasi layanan dan penguatan sektor riil di Jawa Tengah. Di sisi lain, percepatan transformasi teknologi disebutnya sebagai pekerjaan penting yang harus terus didorong.
Menurut Adnas, kemampuan adaptasi teknologi menjadi kunci agar bank mampu menjawab kebutuhan nasabah yang semakin dinamis sekaligus menghadapi risiko eksternal seperti persaingan industri dan ancaman kejahatan siber.
“Transformasi digital perlu terus dioptimalkan agar layanan menjadi lebih efisien, aman, dan relevan. Karena itu, penguatan kompetensi SDM di bidang teknologi juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Memasuki arah kinerja tahun 2026, Adnas menekankan bahwa ukuran keberhasilan tidak semata bertumpu pada pertumbuhan laba, tetapi juga pada kualitas pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Ia menilai target kinerja perlu disusun secara realistis dan selaras dengan Rencana Bisnis Bank (RBB), dengan Tingkat Kesehatan Bank (TKB) sebagai salah satu indikator utama.
“Kinerja tidak hanya soal pertumbuhan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan jangka panjang,” ujarnya.
Red.














