Cirebon, petenews.co.id
Perubahan teknologi dan perilaku masyarakat turut memengaruhi cara dakwah disampaikan. Kondisi ini membuat para dai perlu menyesuaikan metode, materi, hingga media yang digunakan.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jawa Barat, Senin (21/9/2026).
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli mengatakan, masyarakat kini mulai mempertanyakan manfaat dan solusi konkret dari kegiatan dakwah, bukan semata urusan pahala dan berkah seperti dulu.

Menurut Imam, kondisi tersebut membutuhkan dai yang tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga mampu membaca perubahan, memahami persoalan masyarakat, mengubah pengetahuan menjadi tindakan, serta menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Imam pun mengajak para dai melakukan transformasi agar dapat merespons perubahan dengan tepat dan cepat.
“Perintah dakwah dalam Al-Quran menggunakan kata kerja sekarang atau hari esok (fi’il mudhari) dan kata perintah sekarang (fi’il amr). Artinya, para dai harus aktual dan kontekstual,” katanya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (17/9/2026).
Imam juga menyoroti kemunculan ustaz instan dan ustaz yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Fenomena tersebut perlu direspons para dai dengan memberikan solusi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Karena itulah, Imam mendorong perubahan dalam dakwah yang mencakup tiga hal, yakni metode, materi, dan media.
“Jangan sampai metodenya monolog, materinya tidak memedulikan kebutuhan masyarakat, dan media yang digunakan sama seperti dulu. Lambat laun perubahan akan meninggalkan,” ujar Imam.
*Diikuti 700 peserta yang lolos seleksi*
Workshop tersebut digelar sebagai bagian dari kontribusi Imam Jazuli Foundation kepada para dai dan pesantren.
Panitia workshop Ubaydillah Anwar mengatakan, pihaknya berencana menyeleksi 5.000 dai dari seluruh Indonesia untuk mengikuti rangkaian workshop tersebut.
“Kami merencanakan untuk menyeleksi 5.000 dai di seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop berseri ini. Kami mulai dari Jawa Barat dulu. Dari 1.500 pendaftar, kami seleksi menjadi 700 orang,” kata Ubaydillah.
Menurut Ubaydillah, seluruh kebutuhan workshop ditanggung oleh Imam Jazuli Foundation.
Untuk memperkaya materi workshop, panitia menghadirkan sejumlah pembicara. Beberapa di antaranya adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Anwar Iskandar Gus Irfan Wahid, Ustaz Yusuf Mansur, dan Arie Untung.
KH Anwar Iskandar mengingatkan para dai untuk terus menyesuaikan cara berdakwah dengan perubahan masyarakat.
Anwar mencontohkan para nabi yang menurutnya memiliki mukjizat berbeda sebagai bentuk penyesuaian dengan kondisi masyarakat pada zamannya.
“Para nabi diberi mukjizat yang berbeda-beda oleh Allah sebagai bukti penyesuaian terhadap perubahan masyarakat, kecuali untuk urusan yang pokok (ushuliyah) yang harus dipertahankan,” ujar Anwar.
Anwar juga menilai bahwa tantangan dakwah saat ini membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak dan tidak dilakukan secara sendiri-sendiri. Menurut Anwar, ulama dan umara memiliki peran yang berbeda, tetapi dapat bekerja sama dalam persoalan tertentu.
“Ulama dan umara harus bersatu, tidak saling menafikan peran. Ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh ulama, ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh umara, dan ada urusan yang harus ditangani bersama,” katanya.
Sementara itu, Gus Irfan Wahid atau Gus Ipang membahas peran penting pemahaman mengenai branding dan media sosial dalam kegiatan dakwah.
Gus Ipang mengibaratkan dakwah di era digital seperti aktivitas berbelanja melalui platform e-commerce.
Menurut Gus Ipang, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan kualitas pesan, tetapi juga sosok yang menyampaikannya dan tingkat kepercayaan publik.
“Pesan dakwah adalah produk, dai adalah afiliator, rating adalah kepercayaan, ulasan adalah respons publik, dan beranda adalah algoritma,” ujar Gus Ipang.
Gus Ipang menambahkan, para dai perlu memahami perilaku, kebiasaan, dan cara berkomunikasi masyarakat agar pesan dakwah dapat diterima.
Menurut Gus Ipang, kemampuan berbicara di depan publik saja tidak lagi cukup.
Para dai juga perlu memahami cara membangun persepsi melalui komunikasi di ruang publik dan media digital.
“Dulu, orang cukup dengan public speaking, sekarang ini tidak cukup, harus memahami public framing juga. Komunikasi melahirkan persepsi dan persepsi membentuk reputasi,” katanya.
Dalam sesi tersebut, Gus Ipang juga memberikan contoh dan gambaran teknis yang dapat digunakan para peserta dalam mengembangkan kegiatan dakwah di media digital.
“Kita tidak akan kalah oleh AI, tetapi kita kalah oleh orang yang mengerti AI,” ujarnya.
*Manfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan dakwah*
Pada sesi berikutnya, Ustaz Yusuf Mansur mengajak para dai untuk terus melakukan pembenahan diri dan tirakat.
“Saya tidak perlu menyebutkan apa yang harus kita benahi sebab kita tahu diri kita masing-masing,” kata Yusuf
Sementara itu, Arie Untung membahas pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk mendukung kegiatan dakwah.
Menurut Arie, telepon seluler yang digunakan sehari-hari kini dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan keagamaan dan memperluas jangkauan dakwah.
“Ini perlu kita jadikan senjata dalam dakwah. Dengan media sosial dan teknologi, dakwah dapat disebarkan kapan saja, jangkauannya luas luar biasa, dan biayanya sangat rendah,” ujar Arie.
Red.














