Surakarta, petenews.co.id
Pemuda bukan sekadar masa depan, melainkan bagian dari masa kini.
Indonesia memiliki generasi muda yang hidup di tengah perubahan teknologi, ekonomi, geopolitik, dan hubungan internasional. Mereka memiliki potensi untuk menjadi diplomat, pemimpin lembaga, profesional perusahaan negara, peneliti, pengusaha, dan penggerak pembangunan.
Namun, potensi itu tidak akan berkembang maksimal jika kesempatan hanya diberikan secara terbatas.
Anak muda harus mempersiapkan diri melalui pendidikan, pengalaman, disiplin, integritas, dan keberanian memikul tanggung jawab. Pada saat yang sama, negara dan seluruh institusi harus membuka jalur yang adil agar kemampuan mereka dapat diuji dan dikembangkan.
Kita tidak membutuhkan perang antargenerasi. Kita membutuhkan hubungan yang sehat: generasi senior mewariskan pengalaman dan keteladanan, generasi muda memperoleh kepercayaan dan kesempatan, sedangkan institusi menjamin proses yang profesional dan transparan.

Masa depan Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada pengalaman masa lalu. Ia harus dibangun melalui keberanian memperbaiki sistem, memperluas kesempatan, dan melahirkan pemimpin baru yang mampu menjawab tantangan zaman.
98 tahun Sumpah Pemuda, saatnya berani melakukan perubahan
Pada momentum 98 tahun Sumpah Pemuda, Indonesia harus berani mengubah regenerasi dari sekadar wacana menjadi agenda nyata.
Kepada generasi senior, terima kasih atas pengabdian dan fondasi yang telah dibangun. Kini, wariskanlah keteladanan, pengetahuan, dan kesempatan. Beranilah legawa ketika tiba waktunya bagi generasi penerus untuk mengambil tanggung jawab.
Kepada generasi muda, persiapkan diri, tingkatkan kompetensi, jaga integritas, dan buktikan bahwa kepercayaan yang diberikan dapat dijalankan dengan baik. Kesempatan harus dijawab dengan prestasi dan tanggung jawab.
Kepada pemerintah, lembaga negara, pemegang saham BUMN dan BUMD, serta seluruh institusi publik, jadikan regenerasi sebagai bagian dari pembenahan tata kelola. Evaluasi jabatan secara objektif, perkuat seleksi berbasis merit, buka jalur kaderisasi, dan pastikan kepentingan bangsa berada di atas kepentingan mempertahankan posisi.
Sembilan puluh delapan tahun setelah para pemuda mengikrarkan persatuan, tantangan kita adalah memastikan bahwa generasi penerus benar-benar memperoleh ruang untuk melanjutkan perjuangan.
Saatnya lembaga negara dan badan-badan publik membuka jalan bagi milenial dan pemuda sebagai pemimpin baru. Saatnya BUMN dan BUMD menempatkan profesional berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan sekadar riwayat jabatan.
Kita tidak meminta generasi senior dilupakan. Kita meminta agar pengabdian mereka dilanjutkan melalui pembinaan dan pemberian kesempatan kepada generasi berikutnya.
Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang menghormati orang-orang yang pernah memimpin, melainkan bangsa yang mampu menyiapkan pemimpin berikutnya.
_Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani._
Menghormati pengabdian. Mengevaluasi jabatan secara objektif. Membuka kesempatan secara adil. Mewujudkan regenerasi Indonesia.
MK.














