SURAKARTA, petenews.co.id
Gelar Budaya Batik Indonesia 2026 digelar meriah pada Rabu, 7 Oktober 2026, bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus mengangkat batik sebagai bagian penting dari identitas budaya dan industri kreatif Indonesia.
Acara berlangsung semarak dengan menghadirkan fashion show batik yang menampilkan karya para desainer kenamaan Kota Solo, seniman batik, serta sejumlah artis dan figur kreatif asal Surakarta. Beragam motif, warna, dan desain batik ditampilkan dalam balutan busana yang memadukan kekayaan tradisi dengan sentuhan mode kontemporer.
Gelar Budaya Batik Indonesia 2026 tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan busana, tetapi juga menjadi ruang pertemuan para pelaku budaya, seniman, desainer, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama merawat serta mengembangkan warisan budaya batik.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia yang akrab disapa Mas Gembul menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap keberlangsungan budaya batik.
> “Kami ingin Gelar Budaya Batik Indonesia ini bukan hanya menjadi sebuah acara seremonial, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, kreativitas, dan masyarakat. Batik adalah warisan yang harus terus kita hidupkan, kita kenalkan kepada generasi muda, dan kita kembangkan agar mampu menjawab perkembangan zaman,” ujar Mas Gembul.
Menurutnya, Surakarta memiliki posisi strategis dalam pengembangan batik nasional karena memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat kebudayaan dan batik di Indonesia.
> “Solo memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Karena itu, kami ingin menunjukkan bahwa batik bukan sesuatu yang kuno. Batik bisa tampil elegan, modern, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Melalui fashion show ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik mampu berjalan beriringan dengan kreativitas dan perkembangan industri fesyen,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Senthir Nusantara Jaya Jawa Tengah, Rima, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Gelar Budaya Batik Indonesia 2026. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk membangun ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
> “Batik bukan hanya kain dan motif, tetapi di dalamnya ada sejarah, filosofi, kreativitas, serta kehidupan para perajin dan pelaku ekonomi kreatif. Karena itu, pelestarian batik harus dilakukan bersama-sama. Kita harus memberikan ruang yang lebih luas kepada para seniman, perajin, desainer, dan generasi muda untuk terus berkarya,” kata Rima.
Rima juga berharap kegiatan seperti Gelar Budaya Batik Indonesia dapat menjadi agenda budaya yang berkelanjutan dan mampu memperluas apresiasi terhadap batik, baik di tingkat nasional maupun internasional.
> “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada hari ini. Semangatnya harus terus bergerak. Batik harus semakin dikenal, semakin dicintai, dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya para perajin dan pelaku UMKM batik,” ujarnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi, meskipun berhalangan hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut, turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Gelar Budaya Batik Indonesia 2026.
Dalam pesan yang disampaikan kepada penyelenggara, Ahmad Lutfi menyampaikan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas dan ekonomi masyarakat.
> “Batik merupakan salah satu kekuatan budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif Jawa Tengah. Kita harus menjaga warisan budaya ini, namun pada saat yang sama terus mendorong inovasi agar batik semakin diterima oleh generasi muda dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” demikian pesan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan para desainer, seniman, pelaku budaya, komunitas, dan generasi muda dalam kegiatan tersebut.
> “Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif,” lanjutnya.
Semarak Gelar Budaya Batik Indonesia 2026 semakin terasa ketika para model memperagakan koleksi batik karya desainer dan seniman batik Kota Solo. Perpaduan antara motif tradisional dengan rancangan busana modern mendapat perhatian dan apresiasi dari para tamu undangan serta masyarakat yang hadir.
Kehadiran sejumlah artis dan figur kreatif Kota Surakarta juga menambah daya tarik acara. Mereka turut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan batik melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan generasi muda.
Melalui Gelar Budaya Batik Indonesia 2026, Surakarta kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa sekaligus kota yang mampu menghidupkan tradisi melalui kreativitas. Batik tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai karya budaya yang terus tumbuh, berkembang, dan memiliki masa depan di tengah perubahan zaman.
Gelar Budaya Batik Indonesia 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga batik berarti menjaga identitas, menghidupkan kreativitas, sekaligus membuka ruang bagi generasi penerus untuk membawa budaya Indonesia menuju masa depan.
MK.














