Melompati Angka Raksasa: Menagih Dampak Nyata Solo Great Sale Bagi Masyarakat

SOLO, petenews.co.id

Diinisiasi pertama kali pada Februari 2015 untuk menyiasati fenomena low season—masa lesunya sektor perhotelan, restoran, dan perdagangan di Kota Solo—Solo Great Sale (SGS) kini telah bertransformasi menjadi agenda ekonomi berskala nasional. Pengakuan tersebut makin mempertegas posisinya setelah ditetapkan sebagai Program Nasional oleh Kemenko Perekonomian pada 2025.

Capaian puncaknya terlihat pada gelaran Juli 2025. Sepanjang bulan tersebut, SGS berhasil membukukan nilai transaksi raksasa sebesar Rp10,7 triliun, melampaui target awal Rp10 triliun dengan melibatkan puluhan ribu tenant UMKM serta berbagai sektor ekonomi. Namun, di balik angka fantastis tersebut, muncul kesadaran baru dari para pelaku usaha: indikator keberhasilan tidak boleh berhenti sekadar pada nominal angka transaksi.

Dalam rapat koordinasi yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surakarta bersama 35 asosiasi pada Rabu (14/10/2026), fokus diskusi diarahkan pada evaluasi pelaksanaan SGS 2025 serta perancangan strategi SGS 2027. Para ketua asosiasi menyuarakan harapan agar SGS edisi ke-10 mendatang dapat memberikan dampak langsung (nendang) yang dirasakan masyarakat luas.

Ketua PHRI Surakarta, Joko Sutrisno, menekankan pentingnya penyelenggaraan ragam event secara simultan—mulai dari seni, budaya, olahraga, hingga pameran (expo) skala lokal maupun internasional. Menurutnya, event besar menjadi magnet utama untuk menarik wisatawan. Ketika wisatawan datang, keterisian kamar hotel meningkat, sektor kuliner bergeliat, dan produk UMKM terbeli, yang secara otomatis mendongkrak transaksi ekonomi.

Nada serupa disampaikan oleh Veronica Lahji dari Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Kota Solo. Menurut Public Relations Solo Paragon Mall tersebut, fokus SGS selama ini terlalu dominan pada diskon di pusat perbelanjaan. Ia mendorong agar SGS berekspresi lebih luas di luar mal melalui kegiatan bisnis dan budaya, sementara mal diberikan kebebasan untuk berekspresi dan melakukan eksplorasi.

Di sisi lain, promosi menjadi kunci vital yang digarisbawahi oleh Vladimir Langgeng, Ketua Bidang Ekonomi Bisnis PWI Surakarta sekaligus perwakilan Asosiasi Pengusaha dan Praktisi Periklanan Solo (Asppro). Ia menegaskan pentingnya promosi agresif melalui media luar ruang (baliho) di kota-kota target wisatawan seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang, disamping penguatan di media arus utama dan media sosial. Promosi langsung (on the spot) serta kerja sama strategis dengan agen perjalanan juga dinilai perlu untuk menggaet pengunjung dari luar daerah.

Ketua Kadin Surakarta, Ferry Sephta Indrianto, mengapresiasi masukan dari para pemangku kepentingan tersebut. Meski sepakat bahwa pencatatan nilai transaksi tetap menjadi salah satu indikator penting keberhasilan, ia menegaskan pentingnya integrasi berbagai ide kegiatan guna menyongsong SGS mendatang. Kadin Surakarta pun merencanakan kegiatan pre-event pada November 2026 sebagai pijakan awal menuju gelaran SGS 2027.

NN.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *