Semarang, petenews.co.id- Di tengah hangatnya suasana silaturahmi dan buka puasa bersama, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melontarkan sebuah peringatan serius yang ditujukan kepada para relawan. Bukan sekadar tentang pembangunan fisik, melainkan tentang “perang” tak kasat mata yang sedang dan akan terus berlangsung di genggaman tangan masyarakat: perang melawan banjir informasi sesat di media sosial.
Dengan nada yang tegas namun penuh harap, Luthfi melukiskan situasi darurat narasi digital yang kini dihadapi. Ia menyebut, tantangan terbesar pembangunan daerah saat ini tidak hanya datang dari medan, tetapi juga dari layar ponsel. Potongan-potongan video yang diedit, narasi yang sengaja dipelintir, dan berita bohong, menurutnya, menjadi virus baru yang diam-diam menggerogoti kepercayaan publik.
“Bapak-Ibu sekalian, banyak sekali informasi yang beredar tidak utuh. Bahkan, ada potongan video yang digabung-gabungkan sedemikian rupa hingga menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Ini bahaya,” ujar Luthfi di hadapan para relawan Jateng, Sabtu malam.
Di sinilah, kata dia, peran relawan sebagai garda terdepan atau “pasukan digital” menjadi krusial. Mereka tidak hanya diminta menjadi pendukung program pembangunan infrastruktur, penurunan kemiskinan, atau pendorong investasi, tetapi juga harus menjadi penyeimbang informasi. Mereka diharapkan menjadi tameng yang meluruskan setiap narasi miring sebelum kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah benar-benar luntur.
Lebih dari itu, Luthfi melihat relawan memiliki posisi strategis sebagai jembatan penghubung yang hidup antara masyarakat dan pemerintah. Ia meminta mereka untuk aktif menyuarakan denyut nadi warga di daerah masing-masing. “Jangan segan-segan sampaikan apa yang menjadi keluhan dan persoalan di desa atau kota Anda. Itu adalah cambuk bagi kami, pejabat publik, untuk lebih giat lagi bekerja,” tegasnya.
Namun, tugas relawan tidak berhenti di situ. Setelah sebuah masalah ditindaklanjuti, Luthfi meminta mereka kembali turun tangan untuk mengabarkan hasilnya. Dengan begitu, masyarakat tidak merasa aspirasinya hanya menjadi seremonial belaka, tetapi benar-benar mendapat respons nyata. Rantai komunikasi yang utuh ini diyakini mampu membangun kembali kepercayaan yang sempat terkikis oleh derasnya hoaks.
Suasana kebersamaan di malam Ramadhan itu pun menjadi momentum pengingat bahwa di era digital ini, pembangunan tidak hanya diukur dari beton dan jalan mulus, tetapi juga dari kesehatan ruang publik maya. Provinsi Jawa Tengah, dengan segala program pembangunannya, kini menggantungkan harapan pada para relawan untuk menjadi narator terpercaya yang mampu meluruskan cerita, menjaga api kepercayaan tetap menyala di tengah badai informasi yang menerpa. (Hamdi/red)














